Islam merupakan agama yang di dalamnya diajarkan nilai nilai
moral yang pernah diajarkan oleh baginda nabi Muhammad saw dan sampai saat ini di era Islam yang modern, konsistensi ajaranya masih sangat diperlukan dan perlu digalakan. karena ajaran itu sampai kapanpun akan tetap relevan jika ajarkan. Sesuai hadis nabi Muhammad S.a.w. yang artinya : Sungguh aku telah diutus oleh Allah tidak lain untuk menyempurnakan
ahlak. Dengan kata lain islam datang untuk merubah adat istiadat bangsa
Arab yang tidak berperikemanusiaan. Ibnul Qayyim bahkan mengatakan bahwa semua
isi agama adalah etika. “Barang siapa bertambah etikanya, maka bertambah pula agamanya”,
kata Ibnul Qayyim. Ungkapan ini menunjukkan perhatian Islam terhadap masalah
moral dan etika yang tujuannya adalah untuk menegakkan kehidupan yanglebih
adil, harmonis, dan kemauan untuk bekerja sama. Logika hadis ini hendak
mengemukakan bahwa masyarakat tidak akan sempurna tanpa moral atau budi pekerti
(akhlak). Seolah olah Nabi tidak perlu diutus jika tidak ada misi penyempurnaan
moral. Masalah moral terkait dengan kehidupan bersama baik di dalam masyarakat
maupun negara. Kumpulan orang-orang di dalam suatu masyarakat harus diikat oleh
suatu konsensus-konsensus sosial yang bermoral sehingga kepentingan setiap
orang tidak saling bertabrakan. Itulah sebabnya,kepemimpinan dibutuhkan untuk
mengorganisasikan berbagai kepentingan itu dalam wadah sistem politik Dalam
Islam, masalah politik setua Islam itu sendiri. Pemerintahan NabiMuhammad SAW
di Madinah adalah pemerintahan yang berjalan berdasarkan moral al-Qur’an. Hukum
ditegakkan dan ketidak adilan tak boleh hidup di sana. Selama pemerintahannya,
Nabi di samping berpegang pada wahyu juga mengajak bermusyawarah dengan para sahabatnya. Karena
itu, tidak ada gerakan perlawananyang menggerogoti pemerintahannya. Hal ini
terjadi karena dua hal. Pertama, pemerintahan Nabi Muhammad SAW berlandaskan
etika. Kedua, tindakan makar tidak diperkenankan karena ia sama dengan melanggar
kepatuhan kepada ulil amr dan Rasulullah.
” (HR. Abu Daud). Riwayat ini dikemukakan untuk menunjukkan
bahwa dalam politik itu ada etika sehingga cara mengkritik yang merong rong
kewibawaan suatu pemerintahan adalah sebuah pembangkangan yang bisa mendorong
padatindakan makar. Kritik haruslah disampaikan secara konstruktif dan dengan
alasan-alasan yang rasional serta mengedepankan etika moral sehingga ia berguna
bagi perubahan-perubahan kebijakan pemerintahan. Untuk itu SIAPA pun yang
terjun dalam bidang politik pasti memiliki kepentingan kekuasaan. Kekuasaan di
mata Islam bukanlah barang terlarang, sebaliknya kekuasaan dan politik
dianjurkan selama tujuannya untuk menjalankan visi-misi kekhalifahan. Untuk itu
kekuasaan harus didapatkan dengan tetap berpegang pada etika Islam. Sebagai
agama yang sempurna, Islam telah memberikan panduan etika dalam kehidupan
manusia. Karena itu etika dalam politik menjadi suatu keharusan. Di sini
terlihat Islam sebagai way of life (pandangan hidup) yang baik dan memiliki
moral code atau rule of conduct dalam melayani rakyat. Islam datang dengan
resource yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan yaitu Alquran sebagai
sumber utama dan dipertegaskan dengan Sunnah Nabi. Alquran sebagai dasar
bagi manusia kepada hal-hal yang dilakukan memberikan tekanan-tekanan atas amal
perbuatan manusia (human action) dari pada gagasan. Artinya Alquran
memperlakukan kehidupan manusia sebagai keseluruhan aspek yang organik, semua
bagian harus dibimbing dengan petunjuk dan perintah-perintah etik yang
bersumber dari wahyu, yang mengajarkan konsep kesatuan yang padu dan logis.
Dari
uraian diatas dapat diambil kesimpulah bahwa didalam era yang modern dewasa ini berpolitik wajib ber etika
yang berlandaskan aturan - aturan tuhan yang terkonsep dalam al – Quran dan
hadis nabi Muhammad saw. Dengan begitulah nantinya setiap individu maupun
kolektif yang berkecimpung di dunia politik tidak sampai melanggar norma –
norma yang dapat membawanya pada taraf
abmoral.
No comments:
Post a Comment